Minggu, 23 Oktober 2016

Museum UGM

Museum UGM



 Museum UGM merupakan bagian dari salah satu bangunan yang berada di komplek Universitas Gadjah Mada tepatnya berada di Selatan Graha Saba Pramana. Museum ini terdiri dari beberapa ulasan tentang sejarah-sejarah para pahlawan pada masa penjajahan dan juga pendiri dari Museum UGM ini. Karena sejarah berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak terlepas dari peran para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia.

-          Sejarah Museum UGM

           Realisasi berdirinya museum UGM menjadi harapan dan cita-cita bersama untuk mewujudkan semangat pengabdian dan dedikasi UGM untuk bangsa dan masyarakat. Museum UGM menjadi sarana yang efektif dan efisien untuk mentransformasikan jati diri UGM sebagai universitas perjuangan, kebangsaan, kebudayaan, dan berdasarkan Pancasila. Pidato Soekarno pada pembukaan Gedung UGM di Bulaksumur Yogyakarta 19 Desember 1959 mengatakan bahwa Pantjasila adalah isi daripada Gadjah Mada, isi daripada Universitas ini, dan saja minta kepada semua mahaguru,pada lektor-lektor supaja Pantjasila,djiwa pantjasila itu, betul-betul dikobar-kobarkan,dihidup-hidupkan di dalam kalangan mahasiswa semua. Oleh karena itu, gagasan untuk melahirkan Museum UGM sebagai wahana pembelajaran nilai-nilai karakter bangsa melalui museum sangat penting dilakukan. Mengingat keinginan masyarakat untuk melihat dan memahami lebih dekat tentang UGM. Berdasarkan pemikiran tersebut mendorong UGM untuk dapat menjawab mengapa UGM perlu mewujudkan Museum UGM sebagai jendela jati diri UGM yang berkelanjutan.
           Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu universitas nasional yang tertua dan terbesar di Indonesia. Bahkan tidak salah apabila UGM disebut sebgai salah satu Universitas perintis pendidikan modern di tanah air. Karena itu, kiprah lembaga pendidikan ini sejak awal berdirinya hingga mencapai keadaanya yang sekarang merupakan bagian yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Banyak pengalaman berharga dapat dipelajari dari proses tumbuh kembangnya UGM. Namun, berbagai pengalaman yang dialami oleh UGM tidak banyak diketahui.
                 oleh citivas-akademika UGM sendiri apalagi oleh masyarakat pada umumnya. Karena itu, pengalaman-pengalaman tersebut seakan tidak mempunyai arti kehidupan masyarakat di masa kini. Nilai-nilai penting yang seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita saat ini dan generasi mendatang akan hilang begitu saja, tanpa jejak. Padahal, nilai-nilai itu sesungguhnya merupakan warisan penting yang dapat memperkaya kehidupan, baik di lingkungan akademika maupun di tengah masyarakat luas. 
              Menyadari akan hal itu, sudah selayaknya kini Universitas Gadjah Mada mulai menghimpun berbagai pengalaman yang berharga agar MUSEUM UGM Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 28 29 dapat dilestarikan, dipelajari dan diteladani oleh generasi penerus masa kini maupun mendatang. Upaya ini dapat diawali dengan mendirikan Museum Universitas Gadjah Mada yang bertugas menghimpun dang merawat tinggalan-tinggalan bendawi yang mempunyai nilai penting dalam sejarah UGM dan menampilkan kepada civitas akademika serta masyarakat luas sehingga dapat membawa manfaat yang lebih besar. Disadari sepenuhnya, bahwa tujuan utama dari pendirian museum ini bukanya sekedar upaya untuk melestarikan tinggalan bendawinya, tetapi terlebih dari itu adalah upaya untuk mewariskan nilai-nilai luhur UGM. Selain itu , melalui museum ini, diharapkan jati diri UGM dapat dikenal oleh civitas akademika dan masyarakat luas. 
             Museum Universitas Gadjah Mada mulai dirintis sejak tahun 2000 an dan menjadi embrio pada tanggal 19 Desember 2012. Gagasan pendirian Museum UGM sesungguhnya bukanlah hal baru. Pada tahun 2000 pada era kepemimpinan universitas ini dipegang oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, sudah ada gagasan mendirikan museum tingkat universitas atas usulan dari Prof. Dr. T. Jacob dengan nama 'UGM Natural History Museum', yang diharapkan akan menjadi salah satu tujuan bagi para tamu, pelajar dan mahasiswa serta masyarakat luas yang berkunjung ke Kampus UGM. Selanjutnya pada tahun 2011-2012, minat terhadap upaya merintis museum UGM berlanjut dengan penelitian oleh Tim Peneliti Pusat Studi Pancasila di bawah payung penelitian Klaster Sosial -Humaniora untuk mendapat gambaran tentang isi  Museum UGM yang ketika itu dikonsepkan sebagai “living museum”. Hasil penelitian ini ditindaklanjuti dengan serangkaian upaya untuk penelusuran koleksi dan studi banding ke berbagai museum di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan pengadilan kepada masyarakat (LPPMUGM). Konsep penyelenggaraan Museum UGM ini merupakan kelanjutan dari draf awal penyelenggaraan Museum UGM yang telah disusul oleh Sie Museum PKKH UGM (2010) dengan memasukkan beberapa hasil penelitian selama dua tahun tersebut pada hakekatnya menunjukkan kerangka pikir yang tidak jauh berbeda dengan gagasan awal pendirian Museum UGM. Museum UGM merupakan museum yang menarasikan tentang perjalanan sejarah Universitas Gadjah Mada dari masa ke masa. Museum UGM diharapkan menjadi jendela UGM bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat tentang UGM sebagai Universitas perjuangan , universitas kerakyatan, universitas Pancasila, dan universitas Kebangsaan. Sebagai universitas terbesar dan tertua di Indonesia kiprah dan peran UGM dalam mengukir sejarah bangsa tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjungan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan fenomena global pada masa itu. Berdirinya UGM di era revolusi fisik menjadi titik tolak ketangguhan dan kegigihan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. UGM menjadi simbol kebangkitan Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 30 31 bangsa Indonesia pasca revolusi dan Agresi Militer Belanda ke-2 yaitu pada tanggal 19 Desember 1 9 4 9 . Museum UGM yang berlokasi di kompleks Kampus UGM, Bulaksumur Blok D-6 dan D-7 i ni member i kan gambar an sejarah perjalanan berdirinya UGM dari masa ke masa , sumbangsih UGM untuk bangsa dan negara, kiprah dan perjuangan tokoh-tokoh UGM, dan tokoh nasional yang telah berjasa bagi berdirinya UGM, serta implementasi Tri Dharma UGM baik oleh dosen maupun mahasiswa pada skala nasional maupun internasional. 
                Spektrum keilmuan yang dikembangkan di UGM sangat luas, terhimpun dalam 18 fakultas, 1 Sekolah Vokasi dan 1 Sekolah Pascasar j ana, ser t a beberapa fasilitas pendukung yang berupa pusat-pusat, Laboratorium dan Kebun Pendidikan terpadu tentu akan mempunyai karakteristik sejarah dan pengembangan disiplin masing-,masing berbeda. Terkait dengan hal itu, saat ini UGM telah memiliki Museum yang sangat khusus dan di bawah pengelolaan masing-masing fakultas. Diantara museum yang telah berkembang adalah Museum Biologi dibawah Fakultas Biologi, Museum Paleontropologi dibawah Fakultas Keedokteran, Museum Kayu Wanagama dibawah Fakultas Kehutanan, Museum Gumuk Pasir dan Museum Peta dibawah Fakultas Geografi . Spektrum kajian yang luas dari museum-museum tersebut menjadikan sebuah potensi kekuatan yang terhimpun dalam sebuah simpul koordinasi pengembangan dan diseminasi museum dibawah koordinasi Museum UGM. Harapan kedepan, Museum UGM selain mempunyai mandate sebagai museum sejarah juga akan mengkoordinasi teknis non substansial materi bagi museum-museum di lingkungan UGM. 
              Antusiasme pengunjung Museum UGM di Blok D-6 dan D-7, semakin meningkat, sejak dikunjungi pertama kali pada tanggal 11 Juni 2013 dari HAWAII University sampai tanggal 30 April 2014 telah tercatat kurang lebih sebanyak 2000 pengunjung domestik (Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum) dan 70 pengunjung dari luar negeri (Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Belgia, Lesotho, Uganda, Thailand, Malaysia dan Perancis). Dalam catatan kesan dan pesan yang terdokumentasi di sekretariat Museum UGM Blok D-4, para pengunjung merasa bangga, menarik, kagum, amazing, excellent, terkesan dan merasa bangga UGM memiliki Museum yang menceritakan sejarah secara apik. Beberapa keluarga tokoh-tokoh UGM sudah banyak menghi bahkan artefak dan peni nggal an koleksi penti ng yang mendukung proses sejarah dan perjuangan UGM dari masa ke masa. Saat ini, Museum UGM telah menjadi ikon baru dan media pembelajaran, penelitian, dan memperkuat jati diri generasi dan civitas akademika UGM untuk mengabdi bagi bangsa Indonesia. Museum UGM juga sudah dikenal oleh Asosiasi Permuseuman Indonesia dan Badan Musyawarah Musea (Barahmus) Yogyakarta.

Foto- Foto saat mengunjungi Museum UGM



  


Untuk masuk ke Museum UGM ini mahasiswa atau wisatawan tidak dipungut biaya atau gratis. Asal ada peraturan yang harus di jaga di Museum ini, yaitu :

a.    Tidak boleh merusak semua alat-alat bersejarah yang ada di Museum ini

b.   Boleh berfoto atau mengabadikan moment, tetapi tidak boleh menggunakan flash dari handphone.

c.     Tidak boleh menyentuh alat-alat bersejerah di Museum ini

d.     Tetap selalu menjaga kebersihan 
e. Sopan dan santun kepada orang yang ada di Museum ini termasuk penjaganya.
Alamat: Universitas Gajah Mada, Bulaksumur, Blok D-6 & D-7, Depok, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
                Telepon: (0274) 588688

Hari dan Jam buka Museum:
Museum UGM buka setiap hari kerja Senin - Jum'at Pukul 08.00-15.00, dan tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu mengisi data kunjungan pada meja frontdesk.
Para pengunjung atau mahasiswa bisa mengunjungi museum ini dengan menggunakan fasilitas yang sudah di sediakan oleh Universitas Gadjah Mada yaitu sebagai contohnya bisa menggunakan sepeda kampus.
       Musuem ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang ingin mengetahui tentang sejarah dan orang-orang yang bersejarah. Keunikan dari museum ini adalah para pejuang kemerdekaan merupakan pendiri dari Universitas Gadjah Mada dijelaskan dalam museum ini dan dengan harga yang murah yaitu tidak perlu mengeluarkan biaya jika mengunjungi museum ini. Saran saya adalah sebaiknya lebih di perbaiki lagi museum UGM ini agar dapat menarik pengunjung bukan hanya dari mahasiswa saja tetapi dari masyarakat luas. Museum ini agak gelap atau pencahayaan nya lebih diterangka sedikit dahun banyak terlihat sedikit kotor. Sebaiknya lebih diperhatikan lagi kebersihan dan alat-alat bersejarah lebih dibersihan agar tidak terlihat kotor.
Mengunjungi museum ini dapat bermanfaat karena banyak pengetahuan tentang sejarah-sejarah dan bagaimana berdirinya Univerisitas Gadjah Mada di jelaskan di museum ini.
Reference
http://dwiyunitasari25.blogspot.co.id/2016/10/tentang-museum-ugm.html 
https://ugm.ac.id/id/berita/7910-museum.ugm.mulai.dikunjungi
http://ugm.ac.id/id/fasilitas/3639-museum.ugm

Museum Wayang Kekayon

Ada Beberapa Museum yang ada di Yogyakarta, seperti museum Pewayangan Kekayon Yogyakarta dan Museum UGM. Disini saya akan membahas tentang kedua dari museum  tersebut.

       A. Museum Pewayangan Kekayon


Museum Wayang Kekayon terletak di Jalan. Jogja-Wonosari km 7 No. 277 Banguntapan, Bantul Yogyakarta Indonesia. Museum ini mengoleksi berbagai jenis pewayangan yang ada di Indonesia. Tujuan dari museum wayang kekayon  ini adalah sebagai wisata seni budaya, museum ini juga memiliki fungsi pendidikan, wahana penelitian, dan  rekreasi.

Museum wayang kekayon ini berdiri pada 23 Juli 1990 oleh seorang dokter ahli jiwa setempat bernama Prof. Dr. KRT. Soedjono Prawirohadikusuma. Doketer ini merupakan dokter pemerhati dunia kewayangan bahkan memiliki koleksi wayang pribadi yang cukup knegkap dan inilah yang membuat ia tertarik untuk memajangnya untuk monsumsi umum.

Kerena dilihat dari nama nya saja museum ini merupakan museum yang berisi tentang pewayangan  yang terdiri dari Patung beberapa wayang Seperti Gatotkaca, Anoman, dan beberapa tokoh dalam pewayangan lain nya. Wayang  merupakan kekayaan luhur budaya bangsa Indonesia yang patut kita banggakan. Terbukti atas pengakuan UNESCO atas wayang sebagai warisan pusaka dunia. Di kompleks museum wayang seluas 1,1 ha ini dapat disaksikan ribuan wayang dari berbagai jenis, seperti wayang Purwa, Madya, Gedhog, 100  Kurawa, dan lain-lain yang masih banyak jenis wayang yang menarik.Bukan hanya wayang saja yang ada di museum  ini tetapi kita bisa melihat, ada terdapat aneka topeng, berbagai busana wayang, bahkan patung Wayang wong ukuran sebenarnya, hingga berbagai jenis wayang yang nyaris punah, seperti wayang Madura, Sadat, Golek Thengul, serta berbagi wayang bersejarah yang sudah  ratusan tahun hingga wayang modern seperti wayang  perjuangan/suluh dan wayang republik yang sekarang sering dipentaskan. Selain wayang-wayang ada terdapat gedung pendapa yang sangat luas dan dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti acara pernikahan, pertemuan, latihan  kesenian, dan paekt wisata makan malam sembari menyaksikan pagelaran wayang. Bangunan yang ada di museum ini terdiri dari satu ruang auditorium dengan fasilitas audio visual yang diguakan untuk penjelasan awal bagi pengunjung.

Museum wayang kekayon adalah museum wayang yang mewarisi budaya Indonesia, akan tetapi banyak orang yang tidak mengetahui dan takut dengan adanya wayang. Maka dari itu museum wayang kekayon dibuat agar budaya Indonesia tetap dilestarikan. Bangunan atau museum ini juga sebaiknya lebih diperhatikan lagi karena jika dari luar saja tidak menarik bagaimana wisatawan mau mengunjungi jika tidak dengan tujuan tertentu. Museum ini dapat memberikan ilmu pengetahuan tentang adanya peninggalan pada jaman dahulu seperti adanya wayang ini, hanya saja wayang yang ada di museum ini atau patung yang menyerupai tokoh pewayangan tidak  terurus atau sangat kotor. Sebaiknya ada penjaga atau seseorang yang lebih mengurus dan memperhatikan lagi kondisi dari museum wayang kekayon ini agar wisatawan betah untuk berada di dalam atau di area Museum wayang kekayon Yogyakarta.

Biaya Masuk

Pelajar/umum          : Rp 7.000,-/Orang

Wisatawan  Asing              : Rp 10.000,-/Orang

Biaya membawa kamera    : Rp 10.000,-/

Rombongan              : via konfirmasi ke pengelola museum

Jam Buka Museum

Selasa sampai Minggu pukul 08.00- 15.00 WIB

Hari Senin : TUTUP

Kontak

Alamat Jl.Yogya- Wonosari km 7, no 277 Bantul Yogyakarta.

Telp (0274) 2672900, 379058, 0811255151

 Facebook        : Museum Wayang Kekayon Yogyakarta


Ada satu tokoh pewayangan yang akan saya ceritakan yang ada di Museum Wayang Kekayon ini adalah Gatotkaca. Gatotkaca merupakan salah satu wayang yang melegenda. Berikut sedikit ulasan tentang Gatotkaca.

  

Gatotkaca

 

Gatotkaca merupakan putra dari Bimasena dari keluarga Pandawa, putri Arimbi yang merupakan putri dari kerjaan Pringgandani, negerinya bangsa Raksasa. Ketika bayi nama dari GtaotKaca adalah Jabnag Tetuka. Semenjak lahir sampai ia berumur satu tahun tali pusar yang ada pada Gatotokaca susah untuk dilepas oleh senjata apapun membuat Arjuna memohon kepada dewa untuk membantu keponakan nya tersebut. Pada saat bersamaan Arjuna dan Karna memiliki wajah yang kembar. Karna bertapa untuk  mencari pustaka, sehingga Batara Narada memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan Arjuna. Hal itu membuat Arjuna mengejar Karna untuk merebut senjata itu dari Karna yang membuat pertarungan terjadi. Akan tetapi Karna berhasil lolo dengan senjata Konta sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung dari pustaka tersebut. Sarung yangterbuat dari kayu mustaba yang bisa digunakan untuk  memotong tali pusar. Sarung tersebut musnah ke dalam perut Tetuka saat digunakan untuk memotong tali pusar. Kresna berpendapat kayu mustaba itu akan menambah kekuatan dari Tetuka dan membuatnya tewas ditangan pemilik senjata Konta.

Tetuka kemudian diasuh oleh Narada di kahyangan yang sedang digempur Patih Sekipu dari kerajaan Trabelasuket. Tetuka dihadapkan menjadi lawan Sekipu. Semakin dihajar justru gatotkaca semakin kuat. Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka ke Narada untuk dibesarkan. Narada menjeburkan Tetuka ke kawah Cnadradimuka, Gunung Jamurdipa. Tetuka kemudia tumbuh sebagai lekaki dewasa yang semua pustaka dewa menyatu di dalam tubuhnya. Tetuka membunuh Sekipu dengan gigitan taring yang membuat kresna memotong taring Tetuka dan meminta untuk tidak menggunakan sifat Raksasa.



Batara Guru menghadiahkan Kontang Antrakusuma, Caping Basunanda dan Terompah Padakacama untuk Tetuka. Sejak saat itu namanya berubah menjadi GatotKaca  yang mampu terbang menuju Trabelasuket membunuh Kapapracona.

Gatotkaca sempat menikahi Pregiwa dan menjadi raja Kerajaan Pringgandani  sebelum gugur pada perang Baratayuda. Jasad Gatotkaca mampu menghancurkan kereta Karna dan menjadikan Prajurit Korawan yang ada di sekitarnya tewa terkena percahan kereta Karna tersebut.Foto-foto saat Mengunjungi Museum Wayang Kekayon Yogyakarta.


Foto-Foto saat mengunjungi Museum Wayang Kekayon







                                                                                                                                                                                                                                                               
      
  Museum Wayang Kekayon merupakan museum wayang yang dilestarikan oleh seseorang yang sangat menyukai berbagai jenis wayang. Sebenarnya museum ini adalah museum milik pribadi. Mendirikan museum ini sangat bagus karena untuk melestarikan budaya Indonesia yaitu wayang, tetapi museum ini kurang dan minim sarana dan prasarana yang memadai. Tempatnya yang lumayan jauh dari pusat kota Yogyakarta karena ini berada di Wonosari. Sebaiknya museum ini harus lebih diperhatikan dan diperbaiki lagi agar wisatawan senang dan nyaman berada di museum ini. Karena terlihat dari tempatnya yang sedikit kurang menarik dan dari segi bangunan sangat gelap sehingga terlihat horor saat berada di museum ini, apalagi dengan adanya patung-patung wayang yang terlihat seperti nyata. Tetapi museum ini mempunyai keunikan dengan adanya wayang-wayang baik dari yang orang, kurawa sampai wayang orang dari masa perjuangan atau penjajahan.

Reference
https://gudeg.net/direktori/590/museum-wayang-kekayon.html
http://sobatjogja.com/wisata-sejarah-dari-museum-wayang-kekayon-yogyakarta/ 
http://museumjogja.org/id/content/28-museum-wayang-kekayon

Sabtu, 22 Oktober 2016

Museum Indonesia (DIY)



Ada Beberapa Museum yang ada di Yogyakarta, seperti museum Pewayangan Kekayon Yogyakarta dan Museum UGM. Disini saya akan membahas tentang kedua dari museum  tersebut.

       A. Museum Pewayangan Kekayon

Museum Wayang Kekayon terletak di Jalan. Jogja-Wonosari km 7 No. 277 Banguntapan, Bantul Yogyakarta Indonesia. Museum ini mengoleksi berbagai jenis pewayangan yang ada di Indonesia. Tujuan dari museum wayang kekayon  ini adalah sebagai wisata seni budaya, museum ini juga memiliki fungsi pendidikan, wahana penelitian, dan  rekreasi.
Museum wayang kekayon ini berdiri pada 23 Juli 1990 oleh seorang dokter ahli jiwa setempat bernama Prof. Dr. KRT. Soedjono Prawirohadikusuma. Doketer ini merupakan dokter pemerhati dunia kewayangan bahkan memiliki koleksi wayang pribadi yang cukup knegkap dan inilah yang membuat ia tertarik untuk memajangnya untuk monsumsi umum.
Kerena dilihat dari nama nya saja museum ini merupakan museum yang berisi tentang pewayangan  yang terdiri dari Patung beberapa wayang Seperti Gatotkaca, Anoman, dan beberapa tokoh dalam pewayangan lain nya. Wayang  merupakan kekayaan luhur budaya bangsa Indonesia yang patut kita banggakan. Terbukti atas pengakuan UNESCO atas wayang sebagai warisan pusaka dunia. Di kompleks museum wayang seluas 1,1 ha ini dapat disaksikan ribuan wayang dari berbagai jenis, seperti wayang Purwa, Madya, Gedhog, 100  Kurawa, dan lain-lain yang masih banyak jenis wayang yang menarik.Bukan hanya wayang saja yang ada di museum  ini tetapi kita bisa melihat, ada terdapat aneka topeng, berbagai busana wayang, bahkan patung Wayang wong ukuran sebenarnya, hingga berbagai jenis wayang yang nyaris punah, seperti wayang Madura, Sadat, Golek Thengul, serta berbagi wayang bersejarah yang sudah  ratusan tahun hingga wayang modern seperti wayang  perjuangan/suluh dan wayang republik yang sekarang sering dipentaskan. Selain wayang-wayang ada terdapat gedung pendapa yang sangat luas dan dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti acara pernikahan, pertemuan, latihan  kesenian, dan paekt wisata makan malam sembari menyaksikan pagelaran wayang. Bangunan yang ada di museum ini terdiri dari satu ruang auditorium dengan fasilitas audio visual yang diguakan untuk penjelasan awal bagi pengunjung.
Museum wayang kekayon adalah museum wayang yang mewarisi budaya Indonesia, akan tetapi banyak orang yang tidak mengetahui dan takut dengan adanya wayang. Maka dari itu museum wayang kekayon dibuat agar budaya Indonesia tetap dilestarikan. Bangunan atau museum ini juga sebaiknya lebih diperhatikan lagi karena jika dari luar saja tidak menarik bagaimana wisatawan mau mengunjungi jika tidak dengan tujuan tertentu. Museum ini dapat memberikan ilmu pengetahuan tentang adanya peninggalan pada jaman dahulu seperti adanya wayang ini, hanya saja wayang yang ada di museum ini atau patung yang menyerupai tokoh pewayangan tidak  terurus atau sangat kotor. Sebaiknya ada penjaga atau seseorang yang lebih mengurus dan memperhatikan lagi kondisi dari museum wayang kekayon ini agar wisatawan betah untuk berada di dalam atau di area Museum wayang kekayon Yogyakarta.
Biaya Masuk
Pelajar/umum          : Rp 7.000,-/Orang
Wisatawan  Asing              : Rp 10.000,-/Orang
Biaya membawa kamera    : Rp 10.000,-/
Rombongan              : via konfirmasi ke pengelola museum
Jam Buka Museum
Selasa sampai Minggu pukul 08.00- 15.00 WIB
Hari Senin : TUTUP
Kontak
Alamat Jl.Yogya- Wonosari km 7, no 277 Bantul Yogyakarta.
Telp (0274) 2672900, 379058, 0811255151
 Facebook        : Museum Wayang Kekayon Yogyakarta

Ada satu tokoh pewayangan yang akan saya ceritakan yang ada di Museum Wayang Kekayon ini adalah Gatotkaca. Gatotkaca merupakan salah satu wayang yang melegenda. Berikut sedikit ulasan tentang Gatotkaca.
  
Gatotkaca
 
Gatotkaca merupakan putra dari Bimasena dari keluarga Pandawa, putri Arimbi yang merupakan putri dari kerjaan Pringgandani, negerinya bangsa Raksasa. Ketika bayi nama dari GtaotKaca adalah Jabnag Tetuka. Semenjak lahir sampai ia berumur satu tahun tali pusar yang ada pada Gatotokaca susah untuk dilepas oleh senjata apapun membuat Arjuna memohon kepada dewa untuk membantu keponakan nya tersebut. Pada saat bersamaan Arjuna dan Karna memiliki wajah yang kembar. Karna bertapa untuk  mencari pustaka, sehingga Batara Narada memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan Arjuna. Hal itu membuat Arjuna mengejar Karna untuk merebut senjata itu dari Karna yang membuat pertarungan terjadi. Akan tetapi Karna berhasil lolo dengan senjata Konta sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung dari pustaka tersebut. Sarung yangterbuat dari kayu mustaba yang bisa digunakan untuk  memotong tali pusar. Sarung tersebut musnah ke dalam perut Tetuka saat digunakan untuk memotong tali pusar. Kresna berpendapat kayu mustaba itu akan menambah kekuatan dari Tetuka dan membuatnya tewas ditangan pemilik senjata Konta.
Tetuka kemudian diasuh oleh Narada di kahyangan yang sedang digempur Patih Sekipu dari kerajaan Trabelasuket. Tetuka dihadapkan menjadi lawan Sekipu. Semakin dihajar justru gatotkaca semakin kuat. Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka ke Narada untuk dibesarkan. Narada menjeburkan Tetuka ke kawah Cnadradimuka, Gunung Jamurdipa. Tetuka kemudia tumbuh sebagai lekaki dewasa yang semua pustaka dewa menyatu di dalam tubuhnya. Tetuka membunuh Sekipu dengan gigitan taring yang membuat kresna memotong taring Tetuka dan meminta untuk tidak menggunakan sifat Raksasa.


Batara Guru menghadiahkan Kontang Antrakusuma, Caping Basunanda dan Terompah Padakacama untuk Tetuka. Sejak saat itu namanya berubah menjadi GatotKaca  yang mampu terbang menuju Trabelasuket membunuh Kapapracona.
Gatotkaca sempat menikahi Pregiwa dan menjadi raja Kerajaan Pringgandani  sebelum gugur pada perang Baratayuda. Jasad Gatotkaca mampu menghancurkan kereta Karna dan menjadikan Prajurit Korawan yang ada di sekitarnya tewa terkena percahan kereta Karna tersebut.Foto-foto saat Mengunjungi Museum Wayang Kekayon Yogyakarta.

Foto-Foto saat mengunjungi Museum Wayang Kekayon






                                                                                                                                                                                                                                                               
















































           
Reference
https://gudeg.net/direktori/590/museum-wayang-kekayon.html
http://sobatjogja.com/wisata-sejarah-dari-museum-wayang-kekayon-yogyakarta/ 
http://museumjogja.org/id/content/28-museum-wayang-kekayon



Museum UGM




 Museum UGM merupakan bagian dari salah satu bangunan yang berada di komplek Universitas Gadjah Mada tepatnya berada di Selatan Graha Saba Pramana. Museum ini terdiri dari beberapa ulasan tentang sejarah-sejarah para pahlawan pada masa penjajahan dan juga pendiri dari Museum UGM ini. Karena sejarah berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak terlepas dari peran para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia.

-          Sejarah Museum UGM
           Realisasi berdirinya museum UGM menjadi harapan dan cita-cita bersama untuk mewujudkan semangat pengabdian dan dedikasi UGM untuk bangsa dan masyarakat. Museum UGM menjadi sarana yang efektif dan efisien untuk mentransformasikan jati diri UGM sebagai universitas perjuangan, kebangsaan, kebudayaan, dan berdasarkan Pancasila. Pidato Soekarno pada pembukaan Gedung UGM di Bulaksumur Yogyakarta 19 Desember 1959 mengatakan bahwa Pantjasila adalah isi daripada Gadjah Mada, isi daripada Universitas ini, dan saja minta kepada semua mahaguru,pada lektor-lektor supaja Pantjasila,djiwa pantjasila itu, betul-betul dikobar-kobarkan,dihidup-hidupkan di dalam kalangan mahasiswa semua. Oleh karena itu, gagasan untuk melahirkan Museum UGM sebagai wahana pembelajaran nilai-nilai karakter bangsa melalui museum sangat penting dilakukan. Mengingat keinginan masyarakat untuk melihat dan memahami lebih dekat tentang UGM. Berdasarkan pemikiran tersebut mendorong UGM untuk dapat menjawab mengapa UGM perlu mewujudkan Museum UGM sebagai jendela jati diri UGM yang berkelanjutan.
           Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu universitas nasional yang tertua dan terbesar di Indonesia. Bahkan tidak salah apabila UGM disebut sebgai salah satu Universitas perintis pendidikan modern di tanah air. Karena itu, kiprah lembaga pendidikan ini sejak awal berdirinya hingga mencapai keadaanya yang sekarang merupakan bagian yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Banyak pengalaman berharga dapat dipelajari dari proses tumbuh kembangnya UGM. Namun, berbagai pengalaman yang dialami oleh UGM tidak banyak diketahui.
                 oleh citivas-akademika UGM sendiri apalagi oleh masyarakat pada umumnya. Karena itu, pengalaman-pengalaman tersebut seakan tidak mempunyai arti kehidupan masyarakat di masa kini. Nilai-nilai penting yang seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita saat ini dan generasi mendatang akan hilang begitu saja, tanpa jejak. Padahal, nilai-nilai itu sesungguhnya merupakan warisan penting yang dapat memperkaya kehidupan, baik di lingkungan akademika maupun di tengah masyarakat luas. 
              Menyadari akan hal itu, sudah selayaknya kini Universitas Gadjah Mada mulai menghimpun berbagai pengalaman yang berharga agar MUSEUM UGM Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 28 29 dapat dilestarikan, dipelajari dan diteladani oleh generasi penerus masa kini maupun mendatang. Upaya ini dapat diawali dengan mendirikan Museum Universitas Gadjah Mada yang bertugas menghimpun dang merawat tinggalan-tinggalan bendawi yang mempunyai nilai penting dalam sejarah UGM dan menampilkan kepada civitas akademika serta masyarakat luas sehingga dapat membawa manfaat yang lebih besar. Disadari sepenuhnya, bahwa tujuan utama dari pendirian museum ini bukanya sekedar upaya untuk melestarikan tinggalan bendawinya, tetapi terlebih dari itu adalah upaya untuk mewariskan nilai-nilai luhur UGM. Selain itu , melalui museum ini, diharapkan jati diri UGM dapat dikenal oleh civitas akademika dan masyarakat luas. 
             Museum Universitas Gadjah Mada mulai dirintis sejak tahun 2000 an dan menjadi embrio pada tanggal 19 Desember 2012. Gagasan pendirian Museum UGM sesungguhnya bukanlah hal baru. Pada tahun 2000 pada era kepemimpinan universitas ini dipegang oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, sudah ada gagasan mendirikan museum tingkat universitas atas usulan dari Prof. Dr. T. Jacob dengan nama 'UGM Natural History Museum', yang diharapkan akan menjadi salah satu tujuan bagi para tamu, pelajar dan mahasiswa serta masyarakat luas yang berkunjung ke Kampus UGM. Selanjutnya pada tahun 2011-2012, minat terhadap upaya merintis museum UGM berlanjut dengan penelitian oleh Tim Peneliti Pusat Studi Pancasila di bawah payung penelitian Klaster Sosial -Humaniora untuk mendapat gambaran tentang isi       Museum UGM yang ketika itu dikonsepkan sebagai “living museum”. Hasil penelitian ini ditindaklanjuti dengan serangkaian upaya untuk penelusuran koleksi dan studi banding ke berbagai museum di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan pengadilan kepada masyarakat (LPPMUGM). Konsep penyelenggaraan Museum UGM ini merupakan kelanjutan dari draf awal penyelenggaraan Museum UGM yang telah disusul oleh Sie Museum PKKH UGM (2010) dengan memasukkan beberapa hasil penelitian selama dua tahun tersebut pada hakekatnya menunjukkan kerangka pikir yang tidak jauh berbeda dengan gagasan awal pendirian Museum UGM. Museum UGM merupakan museum yang menarasikan tentang perjalanan sejarah Universitas Gadjah Mada dari masa ke masa. Museum UGM diharapkan menjadi jendela UGM bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat tentang UGM sebagai Universitas perjuangan , universitas kerakyatan, universitas Pancasila, dan universitas Kebangsaan. Sebagai universitas terbesar dan tertua di Indonesia kiprah dan peran UGM dalam mengukir sejarah bangsa tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjungan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan fenomena global pada masa itu. Berdirinya UGM di era revolusi fisik menjadi titik tolak ketangguhan dan kegigihan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. UGM menjadi simbol kebangkitan Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 30 31 bangsa Indonesia pasca revolusi dan Agresi Militer Belanda ke-2 yaitu pada tanggal 19 Desember 1 9 4 9 . Museum UGM yang berlokasi di kompleks Kampus UGM, Bulaksumur Blok D-6 dan D-7 i ni member i kan gambar an sejarah perjalanan berdirinya UGM dari masa ke masa , sumbangsih UGM untuk bangsa dan negara, kiprah dan perjuangan tokoh-tokoh UGM, dan tokoh nasional yang telah berjasa bagi berdirinya UGM, serta implementasi Tri Dharma UGM baik oleh dosen maupun mahasiswa pada skala nasional maupun internasional. 
                Spektrum keilmuan yang dikembangkan di UGM sangat luas, terhimpun dalam 18 fakultas, 1 Sekolah Vokasi dan 1 Sekolah Pascasar j ana, ser t a beberapa fasilitas pendukung yang berupa pusat-pusat, Laboratorium dan Kebun Pendidikan terpadu tentu akan mempunyai karakteristik sejarah dan pengembangan disiplin masing-,masing berbeda. Terkait dengan hal itu, saat ini UGM telah memiliki Museum yang sangat khusus dan di bawah pengelolaan masing-masing fakultas. Diantara museum yang telah berkembang adalah Museum Biologi dibawah Fakultas Biologi, Museum Paleontropologi dibawah Fakultas Keedokteran, Museum Kayu Wanagama dibawah Fakultas Kehutanan, Museum Gumuk Pasir dan Museum Peta dibawah Fakultas Geografi . Spektrum kajian yang luas dari museum-museum tersebut menjadikan sebuah potensi kekuatan yang terhimpun dalam sebuah simpul koordinasi pengembangan dan diseminasi museum dibawah koordinasi Museum UGM. Harapan kedepan, Museum UGM selain mempunyai mandate sebagai museum sejarah juga akan mengkoordinasi teknis non substansial materi bagi museum-museum di lingkungan UGM. 
              Antusiasme pengunjung Museum UGM di Blok D-6 dan D-7, semakin meningkat, sejak dikunjungi pertama kali pada tanggal 11 Juni 2013 dari HAWAII University sampai tanggal 30 April 2014 telah tercatat kurang lebih sebanyak 2000 pengunjung domestik (Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum) dan 70 pengunjung dari luar negeri (Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Belgia, Lesotho, Uganda, Thailand, Malaysia dan Perancis). Dalam catatan kesan dan pesan yang terdokumentasi di sekretariat Museum UGM Blok D-4, para pengunjung merasa bangga, menarik, kagum, amazing, excellent, terkesan dan merasa bangga UGM memiliki Museum yang menceritakan sejarah secara apik. Beberapa keluarga tokoh-tokoh UGM sudah banyak menghi bahkan artefak dan peni nggal an koleksi penti ng yang mendukung proses sejarah dan perjuangan UGM dari masa ke masa. Saat ini, Museum UGM telah menjadi ikon baru dan media pembelajaran, penelitian, dan memperkuat jati diri generasi dan civitas akademika UGM untuk mengabdi bagi bangsa Indonesia. Museum UGM juga sudah dikenal oleh Asosiasi Permuseuman Indonesia dan Badan Musyawarah Musea (Barahmus) Yogyakarta.

Foto- Foto saat mengunjungi Museum UGM


 
  








-          Harga Tiket
Untuk masuk ke Museum UGM ini mahasiswa atau wisatawan tidak dipungut biaya atau gratis. Asal ada peraturan yang harus di jaga di Museum ini, yaitu :
a.      Tidak boleh merusak semua alat-alat bersejarah yang ada di Museum ini
b.      Boleh berfoto atau mengabadikan moment, tetapi tidak boleh menggunakan flash dari handphone.
c.      Tidak boleh menyentuh alat-alat bersejerah di Museum ini
d.      Tetap selalu menjaga kebersihan 
e.    Sopan dan santun kepada orang yang ada di Museum ini termasuk penjaganya.

Alamat: Universitas Gajah Mada, Bulaksumur, Blok D-6 & D-7, Depok, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
                  Telepon: (0274) 588688

Hari dan Jam buka Museum:
Museum UGM buka setiap hari kerja Senin - Jum'at Pukul 08.00-15.00, dan tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu mengisi data kunjungan pada meja frontdesk.
 
Reference
http://dwiyunitasari25.blogspot.co.id/2016/10/tentang-museum-ugm.html 
https://ugm.ac.id/id/berita/7910-museum.ugm.mulai.dikunjungi
http://ugm.ac.id/id/fasilitas/3639-museum.ugm