Kampung Cina di Semarang (Pecinan)
Terdapat sebuah wilayah atau gang kecil yang di dalamnya terdapat sebuah negeri tirai bambu mini yang ada di Semarang, yaitu Gang Lombok.
Disinilah warga keturunan Tionghoa sejak berabad-abad silam menetap di Semarang. Kawasan ini kemudian lebih di kenal Kampung Pecinan. Di Pecinan sangat kental dengan budaya Tionghoa. Hampir di setiap gang terdapat klenteng yang masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri.
Memasuki Kawasan Pecinan Semarang ini berdekatan dengan Kawasan Kota Lama Semarang (Little Netherlands), Komplek Jurnatan (pusat perdagangan di kota Semarang), Pasar Tradisional Johar (salah satu bangunan yang memiliki desain arsitektur terbaik dijamannya karya Herman Thomas Karsten).
Sejarah Kampung Pecinan Semarang
Kawasan Pecinan Semarang memiliki sejarah yang tidak kalah panjang dengan Kawasan Kota Lama Semarang, kawasan ini menjadi salah satu pemegang pengaruh besar terhadap pembentukan Kota Semarang dan memiliki nilai historis yang tidak lekang dimakan waktu serta berpontensi sebagai salah satu kawasan wisata budaya. Awal terbentuknya kawasan Pecinan ini dikarenakan pemberontakan orang Tionghoa di daerah batavia pada tahun 1740 kepada kompeni Belanda, namun berhasil digagalkan di tahun 1743. Ketakutan Belanda terhadap kaum Tionghoa inilah yang kemudian membuat Belanda memindahkan orang Tionghoa di Semarang yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang – orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda yang terletak di Jl. KH.Agus Salim atau Jurnatan (sekarang menjadi Miramar Restaurant).
Sebagai sebuah kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan dan jasa kaum Tionghoa pada jaman dahulu, Pecinan Semarang memiliki potensi ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat kuat. Kawasan ini sudah dipertegas oleh Pemerintah kota Semarang masuk dalam daftar kawasan revitalisasi melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota No 650/157 tanggal 28 Juni 2005 mengatur tentang Revitalisasi Kawasan Pecinan, dan sekaligus sebagai pusat wisata budaya Tionghoa di kota Semarang.
Aksesibilitas Kawasan Pecinan.
Untuk dapat mencapai kawasan Pecinan ini setidaknya ada 4 jalan utama yang langsung membawa Anda berada di kawasan Pecinan Semarang, yaitu :
> dari jalan KH. Agus Salim (Jurnatan) masuk ke jalan Pekojan akan tembus ke jalan Gang Pinggir.
> dari jalan Jagalan ke jalan Ki Mangunsarkoro tembus ke jalan Gang Pinggir.
> dari jalan Gajahmada ke jalan Kranggan lalu masuk lewat jalan Beteng.
> dari jalan Gajahmada ke jalan Wotgandul lalu lewat jalan Wotgandul Timur.
> dari jalan Jagalan ke jalan Ki Mangunsarkoro tembus ke jalan Gang Pinggir.
> dari jalan Gajahmada ke jalan Kranggan lalu masuk lewat jalan Beteng.
> dari jalan Gajahmada ke jalan Wotgandul lalu lewat jalan Wotgandul Timur.
Kawasan Pecinan Semarang terkenal sebagai Kawasan Pecinan dengan 1001 Klenteng, karena di kawasan ini terdapat 9 Klenteng yang masing – masing memiliki keunikannya sendiri.
- Kelenteng Siu Hok Bio, 1753 | Jl. Wotgandul Timur No.38
- Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, 1756 | Jl. Gang Pinggir No.105-107 (menghadap jl. Sebandaran)
- Kelenteng Tay Kak Sie, 1771 | Jl. Gang Lombok No.62
- Kelenteng Kong Tik Soe, bagian dari Klenteng Tay Kak Sie. | Jl. Gang Lombok
- Kelenteng Hoo Hok Bio, 1779 | Jl. Gang Cilik No. 7, Telepon : (024) 356.7612
- Kelenteng Tong Pek Bio, 1782 | Jl. Gang Pinggir No.70
- Kelenteng Wie Hwie Kiong, 1814 | Jl. Sebandaran I No.26
- Kelenteng Ling Hok Bio, 1866 | Jl. Gang Pinggir No.110 (menghadap jl. Gang Besen)
- Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong, 1881 | Jl. Sebandaran I No.32
Terdapat 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya berada di kawasan Pecinan, yaitu Klenteng Hoo Hok Bio, Siu Hok Bio, Tay Kak Sie, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Tek Hay Bio, Hok Bio, See Hoo Kong, Wie Wie Kiong, dan Klenteng Grajen. Sedang Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. Masing-masing klenteng itu mempunyai nilai historis tersendiri.
Di samping menyimpan legenda Cheng Ho, Klenteng Sam Poo Kong juga dikunjungi masyarakat lintas agama. Di klenteng ini diyakini tersimpan kemudi dan jangkar kapal Cheng Ho yang digunakan pada waktu berlayar ke Pulau Jawa pada awal abad ke-15.
Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk seluruh klenteng di Semarang. Nama klenteng yang menyiratkan napas Budhisme ini menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap ketamakan saudagar Yahudi yang dulu menguasai Klenteng Sam Poo Kong.
Klenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur merupakan klenteng tertua di kawasan pecinan Semarang. Klenteng ini didirikan tahun 1753 sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diterima oleh penduduk sekitar Cap Kauw King. Klenteng ini masih mempunyai warisan yang berusia tua berupa cincin pegangan pintu dan ukiran pada ambang atas pintu klenteng.
Klenteng Wie Wie Kiong di Jalan Sebandaran I merupakan klenteng terbesar di kawasan pecinan. Klenteng ini memiliki kolam hias di atrium depannya yang menjadi simbol bahwa semua masalah ada solusinya. Keunikan klenteng ini berupa patung manusia yang bentuknya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa.
Satu lagi klenteng di Jalan Sebandaran I adalah Klenteng See Hoo Kiong. Berbeda dengan klenteng lain yang memuja dewa-dewi, klenteng ini memuja Dewa Pedang. Keunikan klenteng ini adalah memiliki sumur yang terletak di halaman depan yang menurut legendanya merupakan tempat ditemukannya pedang.
SALAH satu klenteng besar yang merupakan klenteng marga adalah Klenteng Tek Hay Bio. Tek Hay Bio diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera sehingga klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Samudera Indonesia. Hal ini dijabarkan dalam bentuk ornamen dengan dominasi unsur laut. Klenteng yang berada di Jalan Gang Pinggir ini milik marga Kwe.
Selain menikmati keindahan klenteng yang berumur ratusan tahun, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat Tionghoa yang masih menjunjung tinggi tradisi. Kawasan ini terasa makin hidup saat malam hari menjelang peringatan Imlek. Banyak ornamen dan hiasan khas Cina terpasang rapi disepanjang gang-gang dan halaman rumah warga. Belum lagi masakan khas Cina yang mengundang selera bisa dinikmati di beberapa rumah makan yang ada di kawasan ini.
Mengunjungi Pecinan seakan mengunjungi negeri Cina lengkap dengan tradisi, masakan dan kehidupan sosial warganya. Sebuah lokasi yang sulit dilewatkan jika mengunjungi Semarang
Kawasan Pecinan Semarang memiliki beberapa aktifitas masyarakat yang dapat dikatakan semua masyarakat kota Semarang mengetahuinya, seperti :
- Pasar tradisional Gang Baru, dinamakan sesuai nama jalan itu sendiri dan terletak diantara jalan Wotgandul dan jalan Gang Warung, pasar Gang Baru dapat dikunjungi setiap hari di pagi hari mulai pukul 05.00 sampai selesai.
- Waroeng Semawis, aktifitas wisata kuliner di semarang, dimana aneka jajanan makanan dan minuman dijajakan sepanjang jalan Gang Warung yang berlangsung setiap hari jumat, sabtu dan minggu mulai sore hari sekitar jam 18.00 sampai selesai.
- Pasar Imlek Semawis, kegiatan event ini masuk dalam agenda tahunan wisata kota Semarang dan diadakan selama 3 hari dalam rangka menyambut tahun baru Imlek.
· Batas Wilayah Kawasan Pecinan.
Batas Utara : Jl. Gang Lombok (Klenteng Tay Kak Sie)
Batas Timur : Kali Semarang
Batas Selatan : Kali Semarang, Jl. Sebandaran
Batas Barat : Jl. Beteng
Reference
http://visitsemarang.com/artikel/menikmati-eksotika-budaya-tionghoa-di-pecinan
http://www.kompasiana.com/namakuastin/pesona-11-klenteng-di-kampung-pecinan-semarang_54f91ff7a333110a068b46be
http://semarangkota.com/03/kawasan-pecinan-semarang/
Batas Timur : Kali Semarang
Batas Selatan : Kali Semarang, Jl. Sebandaran
Batas Barat : Jl. Beteng
Reference
http://visitsemarang.com/artikel/menikmati-eksotika-budaya-tionghoa-di-pecinan
http://www.kompasiana.com/namakuastin/pesona-11-klenteng-di-kampung-pecinan-semarang_54f91ff7a333110a068b46be
http://semarangkota.com/03/kawasan-pecinan-semarang/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar